Rafflesia arnoldii mekar di hutan Bengkulu tengah
Tuesday, 15 November 2016
Bengkulu, Bengkulu (ANTARA News) - Satu kuntum bunga Rafflesia arnoldii mekar di kawasan hutan lindung Bukit Daun, di Kabupaten Bengkulu Tengah, sekitar 50 kilometer dari Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu."Bunga mekar di habitat aslinya dalam hutan... Read More...
KH Hasyim Muzadi ingatkan pentingnya penghijauan
Tuesday, 15 November 2016
Jakarta (ANTARA News) - Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres)yang juga pengasuh Pesantren Al-Hikam Depok ,Jawa Barat KH Ahmad Hasyim Muzadi baru-baru ini mengunjungi hutan kota atau "City Forest" di Kaliurang Jember, Jawa Timur.Keterangan... Read More...
Orangutan liar cari makan ke rumah warga Kotawaringin Timur
Tuesday, 15 November 2016
Sampit, Kalimantan Tengah (ANTARA News) - Satu orangutan jantan dewasa tersasar ke pemukiman penduduk Desa Sungai Ubar Mandiri, Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, sekitar pukul 12.00 WIB Selasa (15/11).Salah... Read More...
Perdagangan sirip hiu marak di Aceh Barat
Tuesday, 15 November 2016
Meulaboh (ANTARA News) -  Perdagangan sirip hiu masih marak dilakukan sebagai salah satu kegiatan usaha masyarakat pesisir di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh.Beberapa warga masyarakat pesisir yang ditemui di Desa Padang Seurahet, Kecamatan... Read More...
Argentina akan basmi 100.000 berang-berang
Tuesday, 15 November 2016
Buenos Aires (ANTARA News) - Argentina akan membasmi 100.000 berang-berang yang merusak wilayah hutan selatan negeri itu dengan menggerogoti pohon-pohon besar menurut para pejabat Senin (14/11).Wabah hewan pengerat bergigi besar itu melanda Provinsi... Read More...
Peta jalan e-commerce disambut baik pelaku usaha
Wednesday, 16 November 2016
Jakarta (ANTARA News) - Rencana peta jalan atau roadmap e-commerce disambut baik para pelaku usaha tersebut memiliki harapan, kata Managing Partner Ideosource Andi Boediman."Mereka mendengarkan industri. Kami senang pemerintah mau dengar," kata Andi... Read More...
Plug and Play siapkan akselerasi bagi startup Indonesia
Tuesday, 15 November 2016
Jakarta (ANTARA News) - Akselerator global asal Amerika Serikat, Plug and Play, yang baru saja membuka cabangnya di Indonesia menyatakan akan segera menyiapkan program akselerasi bagi startup-startup di Tanah Air.Saeed Amidi,  Founder dan Chief... Read More...
Startup fintech dan IoT akan memikat 2017
Wednesday, 16 November 2016
Jakarta (ANTARA News) - Startup di bidang financial technology (fintech) dan Internet of Things (IoT) akan menarik bagi para investor pada 2017 mendatang."Financial entity dari luar negeri akan masuk, investor besar," kata Managing Partner... Read More...
Siswa Indonesia juarai kompetisi roket air Asia-Pasifik
Tuesday, 15 November 2016
Jakarta (ANTARA News) - Dua siswa tingkat SLTP Indonesia berhasil mengharumkan nama bangsa di ajang kompetisi roket air sewilayah Asia-Pasifik, di Los Banos, Filipina, pada 14 November 2016.Kepala Sub-Divisi Publikasi dan Pelayanan Informasi Publik... Read More...
Plug and Play temui Jokowi realisasikan janji
Tuesday, 15 November 2016
Jakarta (ANTARA News) - CEO Plug and Play Saeed Amidi menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka di Jakarta, Selasa, untuk merealisasikan janji mengembangkan 50 perusahaan startup tiap tahun di Indonesia.Kunjungan Saeed Amidi untuk... Read More...
Winners of the Global Competition for #YouthLed Projects
Tuesday, 08 November 2016
Through this competition GWP was looking for young activists to join forces for water & climate. Here are the winning #YouthLed projects:Climate Saturdays’: Parler et Agir avec les plus Jeunes, TogoMain focus of the project is awareness... Read More...
Caribbean and Central America Join Forces on Rainwater Harvesting
Tuesday, 18 October 2016
This Central American workshop, builds on a 2014 “Caribbean Knowledge Exchange Workshop on Rainwater Harvesting” in St. Lucia hosted by GWP Caribbean and Partners.  At that workshop, two representatives from GWP Central America participated and... Read More...
Increasing Capacities of Policy Makers in International Water Law
Tuesday, 18 October 2016
The Water Director of Uruguay, Mr Daniel Greif, the Director of theMontevideo Training Centre of the Spanish Agency for International Development Cooperation (AECID), Mr Manuel de la Iglesia-Caruncho, and the Regional Coordinator of GWP South... Read More...
GWP Supports Paris Agreement Implementation at COP22
Tuesday, 18 October 2016
GWP delegates will take part in the up-coming UN Climate Change Conference COP22, 7-18 November in Marrakech, Morocco. The objective is to promote support for the implementation of the Paris Agreement, in connection to water and climate change... Read More...
Ruth Beukman: Relationships, Diversity and Flexibility are our Strengths
Tuesday, 18 October 2016
“When I joined GWP in March 2003, it was a very different GWP than today. My job was more about programme management – which suited me, because that was my background – and later the job gradually transformed into a governance and management... Read More...
You are here: HomePublikasiDua Terowongan untuk Jakarta

Dua Terowongan untuk Jakarta

Dalam rencana, tahun 2009 Jakarta membangun proyek terowongan raksasa yakni terowongan moda angkutan massal (subway) dan terowongan bawah tanah multi fungsi. Keduanya diharapkan dapat mengatasi problema Jakarta yang cukup krusial di masa mendatang. Jakarta terapung. Jakarta punya monorail. Oke! Dialog yang diucapkan seorang lanjut usia dalam iklan sebuah situs di televisi menggambarkan informasi tentang Jakarta.

Jakarta, maunya tak harus sering tenggelam dalam genangan. Dalam realita, arus dinamika memacu kota metropolitan ini menjadikan sebagian wajah wilayahnya terpoles modernisasi. Sayangnya, Jakarta memiliki dasar rupa nan kurang cantik. Betapa tidak, dataran rendah di wilayah pesisir yang awalnya berawa-rawa, dialiri 13 sungai yang pada era kemerdekaan dipenuhi gubuk liar akibat urban yang membabi buta, acapkali dikunjungi air berlebih dari wilayah hulu. Pemerintah Hindia Belanda yang pernah menguasainya dengan sebutan Bataviapun sering dibuat kalang kabut manakala kota ini berulangkali dilanda banjir besar. Sungai Ciliwung sering dianggap menjadi biang keladi utamanya.

Kini, masalah menjadi lebih kompleks. Tak hanya karena genangan banjir, tapi juga tenggelam dalam kemacetan, berselimut lingkungan kumuh dan terancam krisis bahan baku air bersih.Menghadapi air, Jakarta memang rumit. Tatakala air berlebih, Jakarta menjadi korban bencana banjir. Di lain waktu, Jakarta malah kesulitan akan bahan baku air bersih. Ini merupakan problem lebih besar di masa mendatang. Banjir tahun 2007 disebutkan telah merugikan hingga mencapai nilai Rp 5 triliun dan kerugian lain akibat rusaknya infrastruktur.

Soal upaya menghindar dari bahaya kemacetan lebih parah di masa mendatang, moda angkutan massal cepat merupakan bagian dari Pola transportasi makro yang digagas Gubernur Sutiyoso segera direalisasikan. Berbentuk kereta api bawah tanah, jika tidak ada aral melintang akan dimulai pembangunannya tahun 2009. Membujur dari Lebak Bulus menuju Jakarta Kota, jalur bawah tanah (subway) akan melintasi antara Ratu Plaza Senayan hingga Harmoni. Secara tehnik, terowongan akan dibangun dengan cara menerobos bawah tanah dan ditangani oleh investor dari Jepang.

Pada tahun yang sama, terowongan bawah tanah multi fungsi atau yang disebut Multi Purpose Deep Tunnel juga direncanakan dibangun. Proyek besar yang diajukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini telah disepakati Pemerintah Pusat. Menerobos bumi, di bawah sungai Ciliwung sepanjang 12 Km, sejak dari jalan Haryono MT -Kampung Melayu-Bukit Duri-Pintu Air Manggarai- Karet-Pintu air Grogol hingga di Muara Angke, proyek ini diperkirakan menelan biaya sebesar Rp 16,7 triliun.

Menurut Menteri PU, Joko Kirmanto, karena keterbatasan anggaran pemerintah, proyek ini akan menggandeng investor swasta, dengan asumsi bahwa jika terbangun, proyek ini akan menghasilkan sekitar Rp 3 triliun pertahun. Kontribusi ini didapat dari perhitungan hasil jalan tol bawah tanah dan pengolahan air bersih. Terowongan bulat, berdiameter 12 meter dan 15 meter di bawah tanah memiliki 2 lapisan (deck) yang berfungsi sebagai jalur jalan tol dan di lapis bawah berupa tandon air ini, dikendalikan teknologi tinggi yakni sistem robot global postioning satelit (GPSD). Seperti yang telah diberitakan pada edisi sebelumnya, tandon air diperkirakan dapat menampung limpahan banjir selama 18 jam dan terintegrasi dengan Banjir Kanal Timur serta Banjir Kanal Barat dan akan dikelola oleh sebuah Badan Otorita atau BUMD.

Dr. Ir. Firdaus Ali, MSc peneliti dari FTUI yang sekaligus staf ahli dari Sutiyoso menyodorkan konsep terowongan bawah tanah yang kelak memiliki fungsi sebagai pengendali banjir, penyelamatan dari kelangkaan bahan baku air, penanganan limbah cair dan pengolahan yang menghasilkan gas, mengatasi kemacetan dengan fungsi sebagai jalan tol dari dan menuju Bandar Udara Soekarno Hatta dan juga sebagai jalur kabel bawah tanah.

Disertai penataan bangunan-bangunan liar di sepanjang sungai Ciliwung untuk dialihkan pada pemukiman lebih layak, warga tersebut dilibatkan pada aspek ekonomi dari pembangunan terowongan tersebut. Menurut Firdaus, idealnya pelaksanaan pembuatan terowongan bersamaan dengan pembenahan lingkungan di atasnya. Dia optimis, karena masyarakat akan menjadi bagian dari kegiatan pembuatan terowongan tersebut. Perkara sistem pemanfaatan air sungai Ciliwung yang posisinya berada di atas terowongan tersebut, akan tersimpan pada tandon di lapis paling bawah. Kemudian melalui proses pengolahan limbah cair yang juga akan menghasilkan gas yang dapat dimanfaatkan, air yang sudah terproses tersebut dialirkan ke penampungan yang kelak menjadi air bersih.

Keuntungan dari pembuatan Deep Tunel

Beberapa keuntungan lain atau kelebihan dari pembuatan Deep Tunel menurut Firdaus antara lain bisa mengatasi masalah banjir tahunan di lokasi padat penduduk tertentu dengan menyalurkan luapan air sungai secara “by pass” melalui terowongan ke arah hilir sungai yang sama, sungai lain, kolam penampung dan/atau langsung ke laut.

Pembebasan tanah untuk keperluan terowongan inipun relatif kecil, yaitu hanya pada bagian ujung terowongan yang muncul kepermukaan tanah dan beberapa titik untuk keperluan ventilasi dan keselamatan (evakuasi). Sistim terowongan yang berfungsi sebagai saluran tertutup, tidak terganggu dengan perilaku masyarakat sekitar sebagaimana halnya dengan saluran terbuka (membuang sampah, MCK dsb) dan pengoperasian serta pemeliharaannya relatif tidak membebani anggaran pemerintah.

Keuntungan lain adalah pelaksanaan pembangunan akan lebih cepat karena menggunakan sistim bor TBM.

Terungkap pada seminar internasional mengenai hal ini di Hotel JW Marriott, Jakarta, proyek serupa telah diterapkan di negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Optimis mendapat sambutan dari para investor, beberapa panelis dari luar negeri meyakinkan secara teknis bahwa pembuatan terowongan ini sangat memungkinkan di Jakarta yang tanahnya relatif stabil. Sementara upaya yang telah dilakukan Sutiyoso selaku Gubernur DKI Jakarta adalah mengundang Islamic Development Bank (IDB) ketika menghadiri pertemuan sister city bulan April 2007 di Beirut, Lebanon. Dalam pertemuan itu, IDB sangat tertarik dengan tawaran Bang Yos untuk membangun proyek raksasa tersebut.

Ketertarikan IDB telah mendorong Pemprov. DKI Jakarta untuk menginstruksikan tim Badan Regulator Pelayanan Air Minum DKI Jakarta untuk segera mempresentasikan rencana Mega Proyek sebagai penyelamatan masa depan Jakarta ini. Sementara, dalam kunjungan ke Jepang, Wakil Presiden Jusuf Kalla pun mengajak investor dari Jepang untuk terlibat dalam proyek raksasa ini.

Pengendalian dan pemanfaatan air menyeluruh

Sejak berulangnya banjir Jakarta, sebenarnya pemerintah pusat telah mempersiapkan rencana pengendalian air sejak dari hulu antar lain rencana membuat sodetan antara sungai Ciliwung dari Katulampa hingga ke sungai Cisadane. Sayangnya menurut Dr. Ir. M. Donny Azdan, direktur dari Directorate of Water Resources and Irrigation Bappenas, Otonomi Daerah memiliki kewenangan wilayah untuk menerima atau menolaknya. Provinsi Banten langsung memberi reaksi keras karena rencana tersebut dianggap akan mengalihkan banjir ke wilayahnya.

“Padahal, sebenarnya mereka akan beruntung karena akan mendapat kesempatan suplai bahan baku air sangat bersih karena langsung mengalir dari hulunya,” ucap Donny.

Ketika seorang peserta memprotes, mengapa harus membangun Deep Tunel yang relatif berbiaya mahal dan tidak melakukan rehabilitasi sungai Ciliwung, mengembalikan atau melebarkan kembali seperti semula, Donny menyebutkan, biaya yang harus dikeluarkan justru tidak lebih menguntungkan, karena akan membutuhkan sekitar 10 triliun. Bandingkan dengan membuat Deep Tunnel sekitar Rp 16,7 triliun yang bersifat multi guna dan menguntungkan dengan beroperasinya jalan tol dan penyelamatan dan pengolahan bahan baku air. Den (Berita Indonesia 40)

 

Statistics

Visitors
7506
Articles
9434
Articles View Hits
2336025

Who's Online

We have 39 guests and no members online

Copyright © 2009 | Indonesia Water Institute | Re-Design bybp| Templates